Showing posts with label children. Show all posts
Showing posts with label children. Show all posts

Thursday, February 5, 2015

#31 Emotional Eater;Seasonal Writer


#31 Emotional Eater;Seasonal Writer


Tak terasa setengah tahun telah berlalu dari posting terakhirku di tahun 2014. Lagi-lagi, New Year Revolution yang tak terucapkan dan tak terpenuhi! Menulis setidaknya satu blog sebulannya. Aish!
Ini kata K-Drama, lho.

Bebenah rumah setelah sekian lama, baru sadar kalau punya blog yang lama banget gak di update. Gubraks! Tahun ini bukan main deh! Alhamdulillah Ya Allah, sampai-sampai waktu berlalupun sangat tak terasa.

Jadilah tak ada New Year Resolution. Tak ada list yang dilanggar karena tak pernah direalisasikan.
Tinggal satu pertanyaan yang tersisa. Quo Vadis, Hani?

2014 vs 2015

Tahun lalu banyak nano-nano jadi satu. Alhamdulillah transisi status dari student menjadi pekerja berjalan mulus. Banyak tantangan silih berganti, banyak kemudahan pula yang didapat dariNya. Alhamdulillah, satu persatu kesulitan hilang dan terselesaikan dengan sempurna. Alhamdulillah pula banyak bantuan tak terduga, dan uluran tangan yang sangat berharga.

Memasuki tahun 2015, penuh dengan harapan dan doa. Tersadar sekali betapa tak berdayanya diri ini. Sehari yang 24 jam ini, sangat tak cukup untuk semua kesibukan sehari-hari. Jalan baru mulai ditapaki. Tak dapat mundur atau berbalik arah lagi. Sekarang bagaimana mengolah waktu yang 24 jam itu menjadi bermanfaat seefisien mungkin.

Tahun 2015 insya Allah tahunnya bintang buat kami sekeluarga. Lho, kok bisa bilang begitu? Setelah melewati tiga tahun penuh perjuangan di segala segi, alhamdulillah, kami sekeluarga insya Allah bisa melalui hari-hari ke depan dengan rasa syukur yang lebih kepadaNya dari pada hari-hari yang lalu.

Ada kemajuan di segala arah bagi kami sekeluarga, dari pekerjaan, kesehatan, pendidikan hingga hubungan dengan keluarga dan teman. Terbukti sekali bahwa di setiap kesulitan Allah berikan kemudahan. Banyak hal yang tak mungkin dijadikanNya nyata. "Maka nikmat Tuhanmu yang mana yang engkau dustakan?"

Emotional Eater

Merefleksi diri serumah, ternyata kita serumah masuk golongan emotional eater. Begitu senang, kita semua langsung setuju makan di luar, atau belanja grocery makanan saat itu juga. Begitu sedih dan susah, kita menghibur diri juga dengan makan. Semakin stress, semakin banyak makanan yang dikonsumsi.

F besar sepertinya punya cita rasa yang cukup tinggi. Hobinya makan sushi, gourmet fusion dan Mediterranian. F kecil, cocok jadi kritikus foodie. Aduh, jangan tanya pickynya! Kalau dia jadi juri food contest atau jadi food kritik, bisa habis dibantai tuh para kontestannya. Hasilnya, jaraaaang sekali masakan ibunya dipuji F kecil, ihiks. Yang dipuji masakan Mediterranian. Aaaah, alamak mamanya harus belajar masak neh!

Setelah melanglang berbagai restoran bersama, kesimpulan terakhir:
1. Pass semua restoran buffet; rendah kualitas baik bahan, rasa, kebersihan, kesehatan.
2. Pass junk food chain restoran; alasan idem di atas.
    (Yang masih masih kadang dilanggar, alasannya beli kopi atau salad)
3. Pass resto masakan Cina, Korea, Jepang, Asia, kecuali 1-2 yang lulus uji lidah keluarga.
    (Semua setuju, masakan mamanya masih lebih enak, murah dan dijamin halal, hooray!)
4. Pass semua Pizza Corner, kecuali 1-2 occassion.
    (Jadi ingat zaman bikin pizza sendiri, ehm. Mana waktunya?)
5. Sepakat, beli bahan yang organik sebisa mungkin, segar dan halal.
6. Masakan mama TOP deh! (Mamanya happy deh!)

Hasilnya? Papa turun 5 kg, F besar bertahan di kisaran normal, F kecil naik 5 kg, mamanya  tetap bundar! Rahasia papa adalah tak makan nasi, dan nasi diganti dengan flat bread. F besar makan separoh porsi biasa dengan variasi yang lebih berbeda. F kecil naik timbangan karena selalu minum susu dan keju. Mamanya? Jadi lapar setiap nonton K-drama. Apalagi setiap scene makan sekeluarga! Duh itu banchan lengkap muncul semua. Cita-cita pengen punya dapur minimal dua, dapur basah, kering dan dapur terpisah dari rumah buat nyale, nyate, mepes, ngerendang, nahu, nempe, ngecap, ngasinin, manisin etc! Pengen punya halaman belakang yang luas, cukup buat kebun sayur mayur sendiri, buat tempat guci kimchi, tunjang kanjang, sama gazebo buat  ngeringin radish, cabe etc.

Seasonal Writer

Yang ini sudah terbukti tuh. Nulisnya sesuka hati. Ini nih yang perlu dibenahi. Harusnya teratur ya, seperti shalat. Ehm. Jadi langkah pertama nih mesti benerin shalatnya. Kalau shalat bener, insya Allah yang lain-lainnya ikut teratur juga. (Ini sih, nalar saya saja, xixixi).

Hayuk ah, sudah berlabel dua di tahun 2015, jadi ada target yang harus dibenahi diri.
1. Makan seperlunya saja, biar sedang senang susah etc, cukup secubit serasa deh. Kalau lapaar bangetz gimana? Sedia jeruk Mandarin sama Nature Valley Protein Bar yang penuh nuts, almond sama dark chocolate. Haiyyya! Anak-anak happy sama microwave popcorn organik.
2. Tidur yang pulas dan cukup. Terutama buat anak-anak, supaya segar di pagi hari berikutnya.
3. Banyak-banyak berdoa dan beribadah, serta bebersih dan berbenah.
4. Sering-seringlah bersedekah. Senyum ikhlas juga sudah masuk sedekah :) Semoga diberi kelancaran rezeki dan dapat bersedekah lebih tahun ini dan ke depan.
5. Selalu bersyukur padaNya dan selalu memohon ampunanNya.
6. Membersihkan hati, fikiran, raga dan lingkungan.
7. Always in love! Love will always surround you. Smile.

Semoga besok semakin baik dari hari ini!

Hani




Wednesday, May 21, 2014

#30 Demam Wisudawan

 
 
 
Tak terasa sudah memasuki pertengahan akhir bulan Mei 2014. Setelah sekian lama berpacu dengan waktu, akhirnya selesai juga studiku tanggal 13 Mei lalu. Ada yang hilang dari sisi hati. Spontanitas kegembiraan yang jauh berbeda dengan wisuda-wisuda yang lalu.
 
Tak seperti saat wisuda pertamaku di kampus UI Depok, saat aku maju menyampaikan pidato wakil wisudawan di antara sekitar tiga ribuan wisudawan dari tingkat Diploma sampai Doktoral. Betapa kikuknya diriku berjalan menyangga sanggul sebesar dan seberat cobek diantara lilitan kain wiron yang kekencangan. Kepala dan dadaku hanya penuh dengan doa, "Ya Allah jangan sampai sanggul ini lepas menggelundung saat aku berada di atas panggung, atau jangan sampai kain wironku merosot terinjak langkahku yang tertatih tatih."
 
Hooray! Merdeka rasanya setelah acara selesai! Tak ada yang  membahagiakan diriku lebih dari melihat orang tua yang membiayaiku sekolah tersenyum setulusnya. Satu beban mereka telah usai.
 
Wisuda yang ke dua, aku berada jauh dari keluarga. Demam panggungku lebih terasa daripada wisuda pertamaku. Wisudawan yang ada adalah utusan dari sekitar lima puluhan negara. Aku serasa robot, maju ke panggung dengan tanpa ekspressi. Dentum-dentum detak jantungku memenuhi rongga telinga. Serasa seluruh mata tertuju pada diriku. Para Duta Besar masing-masing negara juga hadir di sana. Aku sibuk mensimulasikan diriku berjalan ke panggung, menerima Diploma lalu bersalaman dengan para pembesar yang ada di atas panggung sambal berjalan kembali ke tempat semula. Senyum dan tawaku begitu diplomatis di sana. "Fotonya bagus, kok!" kata semua.
 
Duh, mereka tak tahu demam panggungku begitu membahana, sampai-sampai sedetik serasa seabad!
 
Wisuda ke-tiga, masih jauh dari keluarga, aku absen. Karena bersamaan dengan ujian masuk Program di Universitas lain. Tak ada foto, tak ada jabat tangan, tak ada Diploma yang diserah terimakan. Tak ada cerita. Titik.
 
Wisuda ke empat sangat mengharu biru. Semuanya seperti mimpi. Dari masuk ke Program sampai lulus, penuh dengan keberuntungan. Bisa-bisa aku ganti gelar jadi Master of Luck! Aku memakai set kebaya sendiri. Rambutku panjang sampai sepantat, jadi cukup kugulung menjadi konde cepol. Kain wironku buatan ibuku tercinta, sudah custom-made sehingga sangat nyaman dipakai dengan kebaya dan selendang merah mudanya. Fotoku dan Professor pembimbingku penuh dengan senyum sumringah.
 
13 Mei yang lalu adalah wisudaku ke lima. Tak ada kebaya atau sanggul. Aku memakai ghamis made in Indonesia kiriman ibuku tercinta, mungkin lebih tepatnya Kaftan Indonesia warna abu-abu dengan bordiran deretan mawar pink memanjang vertikal sepanjang tengah badan. Ibuku selalu berfikir kalau aku cocok dengan warna abu-abu dan pink. Pertama kalinya aku hadir di wisuda tanpa demam panggung! Ada sekitar tiga ribuan wisudawan, namun hanya seperlima dari mereka yang hadir. Aku datang bersama ke dua anak laki-lakiku. Mereka tak terlihat di antara ratusan keluarga yang hadir. Seperti yang kuduga, akhirnya tak ada foto diriku di dalam kamera! Kedua anakku sibuk selfie sendiri berbagai gaya! Xixixixi. Apa boleh buat. Siapa suruh anak umur 11 dan 7 tahun mengambil foto wisuda, sementara mereka jauh tertelan ratusan manusia yang tinggi-tinggi dan besar-besar.
 
"Mama, sampai berapa wisuda lagi akan Mama hadiri?" hari ini ke dua anakku dengan polos bertanya bersamaan, saat kubawa mereka ke calon tempat wisudaku ke enam. "Hmmmm,  mungkin tujuh, delapan atau sembilan? Who knows?!" kucoba mengelak. "Hey, kalian jangan seperti mama ya! Kalau kuliah, cukup satu atau dua universitas saja. Pastikan kalian dapat job offer sebelum lulus, dan kalian bangun karirmu dari sana. Kalau bisa dapatkan sekolah yang memberikan full-scholarship, jadi kalian dapat menabung biaya kuliah untuk masa depanmu."
 
Believe me or not, aku ini sangat suka sekolah sepertinya. Karena begitu kelas usai, aku merasa sangat kehilangan! Mungkin aku akan terus sekolah sampai nanti!
 
Louisville, 21 May 2014, Dini hari

Monday, February 10, 2014

#27 Déjà vu; Rasa itu Tetap Ada; Melancholy Edition

 
Hari ini matahari bersinar sangat garang.  Sebegitupun masih tak mampu melenyapkan timbunan es dan salju di atas atap, dedaunan dan rumput-rumput halaman. Serasa summer datang di tengah-tengah kebekuan musim dingin. Tahun ini badai salju dan es melanda berkali-kali. Meskipun kami tinggal di perbatasan antara daerah Northeast dengan daerah Mid-West, namun winter kali ini serasa seperti saat kami tinggal di Massachusetts.
 
Déjà vu
  • Déjà vu, from French, literally "already seen", is the phenomenon of having the strong sensation that an event or experience currently being experienced has been experienced in the past, whether it has actually happened or not. (Wikipedia)

  • Entah mengapa, sejak pagi hari saya diterpa perasaan ini. Rasa yang sama yang saya alami saat kecil, saat menatap matahari terbit atau matahari terbenam. Saat mendengar azan Subuh yang mengalun di keheningan pagi, azan Maghrib yang terdengar saat berkendaraan melewati masjid, saat memandang keluar jendela pesawat memandang awan-awan, saat melihat bintang-bintang yang berkedipan di langit kelam.
  •  
  • Rasa itu yang membuat saya sepi, sendiri, membuat saya bertanya-tanya tentang diri. "Siapa saya, untuk apa saya dilahirkan dan kemana saya akan kembali." Rasa itu biasanya muncul sebelum terjadi suatu perubahan dalam hidup saya. Entah perubahan besar atau kecil.
  •  
  • Terakhir saya merasakannya pada waktu saya berada di Boston, dan itu sudah bertahun lalu. Rasa itu sangat kuat  hari ini, dan mengangkat kembali banyak memori lama yang terpendam. Banyak kesedihan dan kepedihan yang lalu, banyak kehilangan, kegagalan dan kematian. Saat saya kecil, setahun sekali kami menghabiskan saat liburan sekolah di rumah Mbah Kakung dan Mbah Putri saya di kaki gunung Sumbing dan Sindhara. Begitu terpencil desanya, begitu indah namun penuh kesunyian dan kepiluan. Saat itu, sekeliling rumah Mbah di kaki bukit yang penuh dengan pohon kopi dan cengkeh. Aroma bunga kopi berbaur dengan harumnya mawar putih. Pagi-pagi yang dipenuhi kabut tebal saat satu persatu penduduk datang untuk menunaikan sholat Subuh di masjid di pojokan rumah Mbah. Setiap memandang gunung-gunung yang menjulang serasa sangat kecil diri ini. Serasa begitu fana dan sendiri.
  •  
  • Entah mengapa saya banyak menghabiskan waktu naik bis umum, entah itu angkot, kopaja, metro-mini, sampai patas AC. Saya angkat tangan dengan kemacetan Jakarta. Bahkan sampai saya bekerja, saya lebih memilih naik taksi daripada menyetir mobil sendiri. Mungkin karena saya suka melihat pemandangan dari balik jendela. Apalagi saat turun hujan. Saat sendiri, di antara gelapnya malam, karena saya biasanya pulang ke rumah di atas jam sebelas malam, saya seperti melihat bintang yang sama yang saya lihat saat saya kecil. Waktu terasa tiada. Begitu mudahnya bagiNya mengubah segala sesuatu, hidup, mati, peradaban, perubahan, yang bahkan sangat tak mungkin sekalipun bagi manusia bukanlah hal yang mustahil. Sering berlinangan air mata saya, saat teringat hal-hal yang fana. Saat teringat jatuh bangunnya seseorang. Begitu mudahnya seseorang kan terlupakan. Sementara waktu terus bergulir dan kehidupan terus berjalan sampai nanti datangnya hari terakhir.
  •  
  • Hujan entah itu hujan biasa atau hujan salju, dingin, sunyi dan kepiluan, rasanya sama seperti air mata yang mengalir saat mengalami kegetiran dalam kehidupan. Saat saya kecil, saya tak mengerti mengapa begitu sedihnya saya bila tinggal lebih dari tiga hari di tempat Mbah Kakung dan Mbah Putri saya. Desa yang sangat terpencil dan sunyi. Bahkan hingga kini desa itu belum tersentuh oleh modernisasi. Sayangnya penduduknya sudah berubah jauh tak lagi polos dan lugu  seperti dulu.
  •  
  • Kini saya merasa begitu kecil dan sendiri. Hanya ada diri ini dan diriNya. Bagai melihat sebuah film, kenangan dan memori lama datang satu persatu. Seperti pusaran waktu yang menyerap diri ini. Saya melihat kaleidoskop waktu. Saya saat kecil di atas kereta malam dari Gambir menuju Yogyakarta. Berjejalan manusia segala rupa memenuhi gerbong-gerbong kereta kelas ekonomi. Saya duduk di antara mereka. Di setiap perhentian, menyeruak masuk para pedagang asongan menjajakan dagangan, dari telur asin, pecel, minuman, rokok, hingga segala rupa. Saat kereta mendekati stasiun Purwokerto, ibu mulai membuka rantangan, membagi nasi, telur pindang, ayam goreng, empal, serta kering tempe bekal semua. Nikmat sekali rasanya. Ah, masa-masa yang telah berlalu, tak akan pernah kembali. Saat masih ada orang tua yang melindungi dan mengayomi. Hidup kita memang sangat fana.
  •  
  • Kini, saat bepergian sangat mudah mencari makanan, tak perlu lagi jauh-jauh membawa bekal makanan. Namun lucunya, suami dan anak-anak lebih suka bila saya membawa bekal makanan, atau sekedar membawa rice cooker, dan aneka pernak-pernik yang dapat dijadikan masakan sedap sekejap. Sayalah seorang ibu bagi anak-anak saya. Mungkin, jauh di lubuk hati mereka, mereka rasakan juga kesedihan dan kepiluan  seperti yang saya rasakan saat kecil? Kami jauh dari sanak keluarga, jauh sekali. Saat melahirkan ke dua anak saya, hanya ditemani suami saja. Seminggu setelah suami kembali kerja, kembalilah harus menangani sendiri semua pekerjaan rumah bersama si kecil. Mungkinkah seperti ini perasaan ibu saya, yang berpisah jauh dengan kakek dan nenek saya di usia sebelas tahun? Ibu saya menikah saat berusia  enam belas tahun (umur ktp, sebenarnya masih berusia lima belas tahun), untungnya sudah menyelesaikan sekolah menengah atas, jadi tak ada yang percaya kalau ibu saya masih di bawah umur.
  •  
    Tak disangka, saya kini terpisah jauh dari ibunda. Rasa rindu, dan pilu menyatu. Rekor lama berpisah sudah terpecahkan. Bila ibu saya bertemu kedua orang tuanya setelah sepuluh tahun, saya sudah memecahkan rekor itu. Ah, siapa sangka, waktu bergulir begitu cepat.
     
    Saya merasa diriNya begitu dekat, sangat dekat. CintaNya begitu indah, begitu dalam. Bertahun-tahun berlalu, begitu banyak kelalaian diri ini, namun begitupun hanya cinta dan cinta yang diberikanNya selalu. Berlinangan air mata saat teringat sekian lama waktu yang tersia. Banyak yang dapat dilakukan, namun banyak waktu yang terbuang.
     
    Wahai Sang Maha Pengasih
    Engkau lah Pencinta Terbesar di atas langit dan bumi
    Sesejuk pagi Kau mendinginkan hati-hati yang membenci
    Kau basahi lidah-dan hati kami dengan pujian akan kecintaanMu
     
    Duhai Sang Maha Penyayang dan Pengampun
    Tiadalah arti hidup kami yang hina dina ini Ya Rabb tanpa kasihMu
    Sementara kan terbentang dan tersiapkan Padang Makhsyar tuk hari terakhir nanti
    Saat wajah-wajah kami nanti kan termunculkan sesuai dengan amalan kami
     
    Di saat-saat seperti ini, tak ada yang dapat saya lakukan, kecuali berserah diri secara total kepadaNya. Bila manusia berlomba mendetoks diri dari racun raga, inilah saat mendetoks diri dari racun segala. Kehidupan akan terus bergulir, namun kita tak akan pernah tahu kemana dan bagaimana kehidupan akan berlanjut. Bagi seseorang yang paling berkesan mungkin saat dirinya mencapai berbagai keberhasilan, tetapi bukan bagi saya. Momen kehidupan yang paling berkesan adalah saat kehilangan, saat kejatuhan, saat kepedihan, saat terlenakan, saat diri ini hancur dan tak berdaya. Karena pada saat itulah, saat saya merasa berada dalam pelukanNya. Berkali-kali tak terhitung, hidup saya diselamatkanNya. Sekali lagi, berkali-kali lagi, saya diberikan kesempatan untuk memperbaiki diri.
     
    Tak ada cinta yang sepedih  dan sepilu ini, seperti cintaMu Ya Rabb...
     
    Louisville
     
    Februari 2014
     
    Hani
     

    Wednesday, February 5, 2014

    #26 Queen; My songs and theirs, too.




    Masa Kecil, Lagu dan Musik
    Waktu saya kecil, tak seperti orang tua teman-teman saya yang hobi nyanyi dan musik, orang tua saya tak terpengaruh dengan trend musik yang sedang in saat itu. Ayah saya senang mendengarkan keroncong atau lagu Melayu, tapi sehari-harinya beliau lebih sering memutar tape lantunan ayat suci Al Qur'an. Ibu saya hampir tak pernah mendengarkan lagu atau musik, atau menyanyi. Beliau ikut saja saat ayah mendengar lagu atau menonton acara musik di TV.

    Sayapun besar dengan lagu hafalan sekolah. Semua lagu A.T. Mahmud atau lagu Bu Kasur masuk di dalamnya. Lagu yang paling hafal? Indonesia Raya dan semua lagu Nasional untuk upacara! Ada teman yang penasaran, kok bisa-bisanya saya hafal semua lagu wajib untuk upacara. Mereka saja yang tak tahu, kalau lagu-lagu itu bisa saya hafal dengan mudah karena serumah membantu saya. Geli rasanya, setiap ada lagu baru, dari ayah, ibu, tante sampai semua yang ada di rumah membantu saya menghafalnya, seperti sama wajibnya menghafal Al Qur'an. Saya akan menyanyi di kamar, di kamar mandi, di atas pohon, pagi siang malam. Pastinya tetangga sampai hafal dengan suara saya deh, ihiks.

    Hasilnya ada memang, selalu masuk tim Paduan Suara sekolah meskipun tak pernah ikut Bina Vokalia. Hampir jadi penyanyi, Alhamdulillah ndak, ketika ada yang menawarkan ke ortu untuk membina saya. Untung saya saat itu masih imut dan di bawah umur jadi NO, jawab orang tua. Kalau nyanyi lagu Nasional dan untuk upacara atau sekolah wajib, tapi nyanyi untuk ditonton, NO WAY lah. Maklum, kami sekeluarga besar dengan pemikiran yang simple saja, sedapat mungkin menjauhi yang tak dicontohkan oleh Rasulullah.

    Saat Remaja
    Jadilah saat di SD, tak satupun penyanyi yang jadi idola saya, meskipun begitu saya ikut ibu saya mendengarkan lagu-lagu Rafika Duri, Andi Meriem Matalatta atau Bimbo. Saya senyum-senyum saja saat pesta atau kumpul-kumpul dengan teman. Teman saya hampir semuanya hafal lagu penyanyi idola mereka. Mereka saja yang tak tahu, saya tak hafal satu lagupun! Paling banter saya kenal nama dan bagian chorusnya saja.

    Sejak SMP, barulah saya mendengarkan lagu dari radio. Saat semua teman jadi fans berat Prambos, saya memilih dengar ElShinta, eh gak mau ikut arus lah ya. Begitu mereka pindah trend, saya teteup aja gak pindah saluran, bukan karena idola, karena ribet, paling pindah ke stasun lain yang acara past by midnightnya gak ada iklannya. Tapiiii, saya tetap tak hafal satu lagupun! Saya tak pernah membeli kaset tape lagu, karena saya tak menganggapnya perlu. Tapi teman-teman saya tak tahu, karena saya bisa mengikuti pembicaraan mereka. Saya memang tak punya kaset tape atau VHS penyanyi yang sedang trend, tapi saya selalu membaca majalah Seventeen dan Rolling Stones. "Gile lu bacaannya," saat ketahuan teman membeli majalah impor di Ratu Plaza. Saya senyum saja. Harga satu majalah bisa dipakai untuk membeli selusin tape, juga bisa mengkaver ketertinggalan saya dari semua yang berbau trendy. Impaslah.

    Saat SMA, saya pindah sekolah ke pinggir kota. Mayoritas pelajarnya dari dua SMP, SMP 68 atau SMP 85. Mereka sangat kompak dan rata-rata aktif di Pramuka atau PMR. Semuanya fans berat Beatles. Sementara, saya dari SMP dengan beda cita rasa musik. Saya lebih suka Bon Jovi, Duran Duran, Phil Collins dan tentu saja Queen.

    Lagi-lagi saya tak hafal satupun lagu-lagunya! Saya modal radio saja mendengarkan lagu-lagu tersebut, tak seperti teman-teman saya yang sampai mempunyai buku lagu dengan semua lirik dan notasi untuk main gitarnya. Mereka begitu berdedikasinya sampai tahu segala seluk beluk penyanyi dan latar belakang lagunya. Semua sampai kalah deh fans K-Boys sekarang! Hehehe...

    Teman-teman saya masih menjadi fans berat dan setia dari penyanyi pujaan saat itu! Termasuk adik saya. Setiap ada konser atau acara digelar di Jakarta, mereka pasti muncul paling depan, atau bahkan jadi promotor acaranya!

    Saya sekarang, Lagu, Musik
    Sekarang saya jarang menyanyi. Suami dan anak-anak saya sangat peka telinganya. Mereka tak suka kalau saya ikut menyanyi saat ada lagu melantun. Ndak menghargai yang menyanyi kata mereka. Kalau mau menyanyi menyanyilah sendiri. Lha, sampai sekarang tak satu lagupun yang saya hafal! Paling banter hanya chorus satu lagu! Seringkali hilang semuanya dari memori.

    Ingat saat tinggal di Jepang, seringkali kena tembak giliran nyanyi di Karaoke. Lagi-lagi saya ndak pernah punya CD lagu. Duh gimana nih, sementara saya gak mau buang uang buat beli CD yang gak bakal saya dengerin. Demi menjaga jangan sampai malu di depan umum, akhirnya deh sekali-sekali ikutan teman praktek karaoke! Lucu kalau ingat saat itu. Dengan $10 perjam bisa nyanyi sepuasnya. Ada tapinya, saya ndak tahu ternyata kalau lagu yang baru cuma muncul di tempat karaoke yang mahalan yang $30 sejamnya. Jadi setiap ada acara karaokean, saya bisanya lagu-lagu lama, model lagunya Teresa Teng atau Misora Hibari. Lagu nenek-nenek! Huaaaaa! Setelah hampir selesai masa studi baru deh bisa nyanyi lagu-lagu yang agak baruan.

    Selama tinggal di USA, saya ndak pernah beli CD, karena sudah zaman download lagu sekarang. Kalau mau dengar satu lagu tinggal beli dari Amazon atau aneka store seperti iTunes. Lagi-lagi, saya masih tak hafal satu lagupun! Duh, gimana ya?

    Tapi ada satu kejadian yang membuat saya terharu. Saya pernah mengunjungi seorang nenek yang usianya hampir 90 tahun. Saat beliau muda, dia suka menyanyi terutama lagu-lagu keagamaan. Sang nenek adalah seorang Yahudi reformis yang fanatik. Entah apa yang membuatnya memutar CD lagu-lagu keagamaan. Namun lagu-lagu itu seperti lantunan orang mengaji, dan seperti lagu gereja juga, sehingga tanpa sadar saya bisa mengikutinya. Sang nenek memeluk saya erat  sambil berlinangan air mata! "Kau genius! Kau seharusnya menjadi penyanyi Opera atau Cantor!" "Berpuluh tahun saya coba mengajarkan pada anak-anak saya, tak ada satupun yang bisa menyanyi seperti yang saya ajarkan, tapi kau belum pernah mendengarnya, bahkan tak bisa Yiddish atau Hebrew, tapi kau bisa langsung mengikutinya!"

    Sejujurnya, saya tak tahu  dan tak hafal lagu-lagunya. Saya hanya bernyanyi seperti saat di karaoke, survival karena tak hafal dan tak tahu lagunya, jadi hanya improvasi semata, lha kebetulan lagu 3 CD kok ya bisa pas cengkoknya.

    Tadinya, hanya satu yang lumayan bisa dishare antara saya dan anak-anak, lagu-lagu Queen! Akhirnya saya coba kenalkan pada mereka lagu-lagu lama yang saya pernah dengar. Di luar dugaan, banyak lagu yang mereka suka, lalu mereka browse sendiri. Thanks to Wiki dan Youtube. Sama seperti saya, mereka tak punya CD atau iPod, tapi mereka improvisasi dengan knowledge mereka sendiri dengan riset dari berbagai sumber. Saya kenalkan mereka juga dengan sejarah musik dan berbagai aliran musik di berbagai tempat dan masa. Sekali-sekali saya dan anak-anak bernyanyi bersama, dari O Mio Babino Caro, sampai I got a move like Jagger.

    Saya tak pernah minder karena tak tahu lagu-lagu trendy. Juga tak pernah minder, karena tak punya kaset, CD, DVD atau berbagai alat musik lainnya. Saya menghargai lagu dan musik sebagai karya seni dan itu yang saya ingin teruskan kepada anak-anak saya, agar mereka respek dan menghargai lagu dan musik sebagai karya seni. Walau pada akhirnya, karya seni yang terindah adalah Al Qur'an.

    Semoga anak-anak sayapun dapat mencapai ke tingkatan mendedikasikan diri kepada karya seni yang tertinggi dan terindah di dunia ini. Insya Allah. Aamiin Ya Robbal 'Alamiin.


    Louisville, Februari 2014

    Hani

    Thursday, October 28, 2010

    #21 Berhasil di Sekolah VS Berhasil Dalam Hidup

     
     
     

    Sekolah sangat mahal di Indonesia. Ini adalah suatu realita yang kontradiktif dengan segala yang kita harapkan dan impikan selama ini. Susah payah kedua orang tua kita membesarkan dan mendidik kita, agar kita-kita mendapatkan kehidupan yang lebih baik dan lebih menyenangkan dibandingkan dengan kehidupan beliau-beliau.
    Ternyata semakin tinggi taraf pendidikan dan taraf kehidupan semakin naik pula biaya yang harus disediakan untuk dapat mengenyam segala fasilitas dan kenyamanan yang tersedia. 
    Sudah bukan berita baru lagi bila dikabarkan sekolah favorit A mensyaratkan dua digit juta rupiah bila kita ingin memasukkan anak ke sana. Sementara menjamur puluhan, ratusan, ribuan sekolah lain yang tidak segan-segan mematok harga menjulang langit untuk memberi 1 tempat bagi buah hati kita.
    Bila mereka yang jelas-jelas tak mampu berkompetisi hanya bisa mengurut dada dan mensyukuri apapun yang dapat mereka raih. Banyak pula di antara mereka yang tidak dapat mempunyai keinginan untuk memasukkan anak mereka ke sekolah favorit/mahal. Sementara, sekolah negeri 'tak favorit'pun sekarang semakin banyak mematok uang sumbangan. Kemana lagi para orang tua ini mesti berpaling? 
    "Ya Mbak....anak tante kan nggak pinter-pinter amat, sudah UMPTN gagal, masuk ke PT swasta mahal.....eh disuruh kursus nggak mau...maluu katanya...". "Masuk program Diploma...gengsi...akhirnya ya...cuma ubak-ubek ke sana kemari sama temennya...tuh."
    Saya teringat kata-kata orang tua teman SD saya, dulu. Teman saya, akhirnya masih bergantung kepada orang tuanya hingga kini. Satu-satunya kebanggaannya, 'menyetir mobil', hal yang sangat 'keren' masa-masa SMA, akhirnya yang menjadikannya sumber mata pencariannya. Itupun seringkali mogok, karena menjadi supir pribadi 'orang kaya' tidak bisa dijadikan penghasilan tetap dengan mentalitas dirinya yang masih merasa sebagai'orang kaya' karena orang tuanya yang kaya. 
    Orang tua teman saya adalah produk yang melihat keberhasilan seseorang dari bebet, bibit bobot. Beliau pun mencari menantu yang minimal masih mempunyai gelar ningrat, yang pekerjaannya minimal insinyur atau dokter, yang orangnya cantik ganteng. Jadilah, teman saya ini selalu menolak tawaran pekerjaan yang menurutnya 'tidak bobot, bibit, bebet'. 
    Sementara ada temannya sesama lulusan SMA dulu yang sama-sama ditawari pekerjaan untuk menjadi detailer obat, dan mengambil tawaran menjadi detailer perusahaan Farmasi, sekarang sudah berkeluarga mapan, dapat menyelesaikan Sarjana Ekonominya di sebuah Universitas Negeri Extension, sudah beralih posisi dari detailer menjadi posisi eksekutif di bagian marketing perusahaan yang sama. Padahal dua-duanya berangkat dari lulusan SMA dengan nilai yang biasa-biasa saja. 
    Satu teman saya masih menikmati kebebasannya, tanpa pekerjaan, masih melajang, dan masih bergantung sepenuhnya kepada orang tua. Sementara temannya yang sama-sama ditawari pekerjaan yang 'dianggap'nya rendah, mengambil tawaran tersebut dan penuh ketekunan dan dedikasi sehingga sekarang mulai menikmati buah kerja kerasnya. Manakah yang lebih berhasil di dalam hidupnya?
    Seringkali kita mendengar keluh kesah orang tua bahwa anak-anak mereka tidak cemerlang di dalam studinya. Seringkali juga kita dengar pomeo bahwa bila tidak berhasil dalam studi berarti sudah kehilangan satu anak tangga menuju keberhasilan hidup. 
    Apa benar bila kita berhasil di dalam studi akan banyak mempengaruhi keberhasilan kita di dalam kehidupan? Ini adalah suatu tema yang abadi dari perdebatan banyak para ahli. Apa sebenarnya parameter keberhasilan dan kesuksesan di dalam hidup? 
    Secara reliji, seringkali di dalam doa-doa yang muncul adalah permohonan dan harapan agar diberikan kebahagiaan dunia dan akhirat, lebih detail lagi dengan perinciian, umur panjang yang penuh berkah dan manfaat bagi semua, penuh kesehatan, dimudahkan dan dilancarkan dalam segala hal, diberikan kehidupan penuh kedamaian dan kemudahan, rezeki yang mengalir berlimpah tak putus, diberikan ilmu yang penuh manfaat, dibebaskan dari kesempitan, ketakutan, kemiskinan, kelaparan dan bencana, dan lain seterusnya. 
    Tidak ada di dalam doa-doa permohonan untuk dijadikan orang bertitel dan menjadi orang jenius. Kenyataannya memang keberhasilan dalam studi tidak menjamin bahwa ybs akan otomatis berhasil di dalam kehidupannya. Hanya saja, memang, keberhasilan di dalam studi bisa menjadi satu faktor yang membuat seseorang menjadi berhasil di dalam kehidupan, meskipun hal ini tidaklah mutlak. Tidak sedikit orang yang tidak menuntaskan jenjang studi formalnya yang berhasil menjadi pengusaha besar. Sebut saja Bill Gates, atau pencipta Apple, atau banyak lagi sederetan nama baik di tingkat lokal, nasional maupun internasional. Kalau kita melihat sekeliling pastinya akan banyak kita temui orang-orang yang sukses tanpa sederetan gelar-gelar pendidikan tinggi. 
    Namun untuk di Indonesia, kelihatannya mayoritas orang masih melihat titel ataupun gelar-gelar yang disandang oleh seseorang dalam menentukan keberhasilan seseorang. Sehingga tak jarang ada orang yang setelah mampu secara ekonomi berusaha meraih gelar-gelar tersebut dengan segala cara, hingga membeli gelar.
     Di satu sisi, ini merupakan satu faktor yang menggembirakan untuk para praktisi akademisi. Ladang yang subur untuk meraup emas-berlian adalah BISNIS PENDIDIKAN. Berarti ini masa depan yang gemilang dan menjanjikan bagi mereka yang berkecimpung di bidang pendidikan secara profesional. Di sisi lain, menimbulkan kompetisi baik sehat maupun tidak sehat bagi bangsa Indonesia di dalam meraih gelar-gelar pendidikan tinggi.
    Saya sendiri mengalami saat-saat melihat perjuangan banyak orang untuk mengubah taraf kehidupan dan penghidupan mereka melalui pendidikan. Tak segan-segan banyak orang mengeluarkan uang berjuta-juta demi mendapatkan seberkas sertifikat/ijazah. Namun sayangnya, jarang ada di antara mereka yang murni belajar 'hanya' sekedar untuk memperoleh ilmu pengetahuan.
    Walaupu banyak yang mendengungkan pentingnya EQ yang balans dengan IQ, selama ini yang saya temui adalah teman-teman atau orang-orang yang saya kenal yang berhasil di dalam studinya adalah mereka pula yang berhasil di dalam kehidupan. Hal ini memang kadang menimbulkan kecemburuan, dan iri hati. Benarkah mereka yang berhasil dalam studi sekaligus mereka mempunyai balans EQ dan IQnya? Sementara kita meyakini bahwa Allah SWT Sangat Maha Adil terhadap semua ciptaanNya. Apa ini berarti ada yang diciptakan untuk menjadi sukses dan ada yang diciptakan untuk sulit menjadi sukses?
    Apakah ini diskrimanasi? Saya lebih cenderung mengatakan bahwa seperti seleksi alam, manusia hidup juga sangat kompetitif. Hidup adalah perjuangan, juga bukan sekedar slogan. Sehingga di manapun manusia hidup dan berada, dia yang diberikan fitrah dan kebebasan oleh Allah dalam memilih sendiri 'way of lifenya', bebas memilih 'faith dan beliefnya', bebas memilih 'medan tempur kehidupannya sendiri'.
    Kita tak bisa hanya berteriak-teriak memprotes kesenjangan kesejahteraan dan kehidupan serta berbagai kenyamanan lain yang tak tergapai oleh mayoritas bangsa Indonesia. Sementara secara mentalitas, impian semua orang adalah sama yaitu menikmati semua kenyamanan tersebut tanpa kecuali. Selama mentalitas /idealisme kenyamanan kehidupan yang diimpikan oleh bangsa Indonesia masih satu versi, berarti seluruh bangsa Indonesia menceburkan diri ke dalam suatu "medan tempur besar materialisme dan borjuisme nasional".
    Teman-teman saya dari bangsa lain kadang menyindir saya, katanya orang di Indonesia beragama, religius, kenapa ya sampai jadi negara terkorup dan masuk negara termiskin? Kalau religius, bukankah itu sangat kontradiktif dengan korup dan kemiskinan?
    Mereka lebih menyindir lagi masalah pelanggaran HAM, dan masalah pelestarian sumber-sumber hayati negara. Apalagi mengetahui hasil report dan survey lembaga dunia/ media internasional mengenai gaya hidup para penguasa dan keluarga mereka.
    Saya sangat susah untuk berkata-kata dan menjawabnya. Bagaimana bangsa Indonesia memilih pemimpin dan para pejabatnya?
    Saya jadi teringat seorang teman, yang sampai diejek banyak orang karena ia menjawab, bahwa ia sebagai pribadi baru mampu menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri, dan "baru belajar"untuk menjadi pemimpin bagi istri dan anak-anaknya.
    Jawabannya yang sangat simple dan low-profile ini pada awalnya kedengaran kurang PD. Namun dibalik jawaban yang super simple ini, terkandung suatu percaya diri yang kuat. Lha, wong dia bisa bilang dapat menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri berarti dia memililiki 'confidence' dapat take-control of his own-life.
    Kebanyakan challenge dari mereka yang sukses di dalam studi adalah 'over-confident'. Apalagi bila sekolah yang dilalui adalah sekolah favorit di LN yang ternama dengan bidang yang super-sulit. Kebalikannya, mereka yang kurang berhasil di dalam studi seringkali dihinggapi hal sebaliknya. Tak PD dan terlalu PD ini sebenarnya bisa menghinggapi siapapun tanpa kecuali. Hanya saja memang selalu ada faktor-faktor pencetus dan pendukung timbulnya hal tersebut.
    Banyak di antara teman yang setelah meraih gelar tertinggi di bidang akademisi menjadi 'terlahir' sebagai orang yang baru yang sudah mengubah 'medan tempur kehidupannya' dan beranjak ke stage yang lebih tinggi. Meskipun masih banyak pula yang tidak berubah gaya hidup serta personalitynya. Masih tetap bersahaja dan low-profile, dan bergaya hidup sederhana, tidak hanya mau bergaul dengan mereka yang dianggap selevel baik gaya hidup, pendidikan, maupun pergaulan.
    Saya jadi teringat komentar seorang teman, yang setengah mengeluh mengatakan bahwa dirinya tidak dianggap di dalam pergaulan teman-temannya hanya karena dia dan suaminya tidak mempunyai gelar pendidikan tinggi dan level penghasilan mereka tidak sebanding dengan teman-temannya yang lain.
    Baginya tidak jadi masalah bila tidak diajak dalam aktifitas lingkaran pergaulan teman-temannya yang sudah menanjak lebih baik, namun rasanya aneh dan menyakitkan bagi mereka untuk tiba-tiba saja menjadi kehilangan banyak teman lama karena kesenjangan pendidikan dan ekonomi keluarga.
    Sementara ini saya masih belum berubah dalam berfikir bahwa pendidikan adalah satu jembatan emas yang mengantarkan manusia ke dalam kehidupan dan pendewasaan diri. Sehingga selayaknya, semakin tinggi pendidikan seseorang, diharapkan akan semakin bijak dan pandai menempatkan dirinya di dalam pergaulan masyarakat. Itu adalah harapan dan idealism.
    Masalahnya kini adalah, pendidikan seperti apa yang hendak diberikan kepada anak-anak kita, karena hal tersebut adalah tanggung jawab kita sebagai orang tua untuk membekali anak-anak kita dengan pendidikan yang bermanfaat dan berguna bagi kehidupan mereka kelak.
    Banyak di antara orang tua yang sekarang sering mengadaptasi cara pengasuhan dan pendidikan ala negara-negara Barat. Banyak hal yang sangat baik dalam menanamkan rasa percaya diri dan motivasi anak, namun kita perlu menengarai bahwa tidak semua yang masuk dari Barat bisa begitu saja kita terapkan di rumah. Meskipun teori pengasuhan dan pendidikan mereka melalui serangkaian percobaan dan pengujian, ada banyak hal yang berbeda dengan kultur budaya dan juga faktor faith-belief yang sering berbeda.
    Salah satu diantaranya yang tidak saya dukung untuk saat ini adalah faham yang membebaskan orang tua dari kewajiban menyekolahkan anak-anak mereka ke jenjang pendidikan tinggi seperti yang banyak terjadi di negara-negara Barat. Selepas SMA, anak-anak harus membiayai biaya pendidikan tinggi mereka sendiri, sementara orang tua mereka membeli rumah, properti atau mobil baru. Dengan situasi dan kondisi di Indonesia, secara realita sangatlah sulit bagi saya untuk melepas anak-anak mencari uang sendiri untuk membiayai pendidikan tinggi mereka.
    Sekarang, dengan kondisi pendidikan di Indonesia yang kian jauh dari peta dan ranking kompetisi pendidikan dunia (silakan dicek sendiri ranking universitas-universitas Indonesia di peta pendidikan dunia) apa yang dapat kita harapkan dari pendidikan tinggi di Indonesia di masa mendatang bagi anak-anak kita?
    Sementara kita masih bergelut dengan biaya pendidikan yang membumbung tinggi, universitas- universitas ternama membagikan ilmunya secara gratis. Siapa yang tidak tahu web-site Massachusett Institute of Technology: http:///ocw.mit.edu/index.html/ yang menawarkan program dari undergraduate sampai program doctoral secara on-line dan free. Bayangkan saja bila bangsa Indonesia bisa semudah itu mendapatkan pendidikan dan ilmu. Apalagi sekarang ada 5 universitas top di Jepang yang ikut bergabung di dalamnya.
    Benarkah pendidikan on-line free benar-benar gratis? Tentu saja tidak. Setiap yang ikut tetap harus berdedikasi dalam belajarnya, belum lagi meluangkan untuk membaca dan membeli buku, kertas, belum biaya untuk on-line dan printing. Tidak ada pendidikan yang benar-benar gratis.
    Masalahnya,sampai saat ini tidak ada satu perusahaan/kantor pun yang mau menerima karyawannya yang lulus semua program hingga doctoral program dengan nilai cum laude sekalipun, BILA tanpa sertifikat atau ijazah. Bila program on-line free tidak memberikan ijazah dan tidak mengizinkan pesertanya untuk menikmati fasilitas normal di dalam kampus, apakah ini berarti pembuktian akan mahalnya nilai sebuah ijazah /sertifikat?
    (HI) Louisville, 2005

    #20 Berburu Nama Indah Dan Baik Untuk Anak Tercinta

    Nama adalah doa dan harapan orang tua yang setulusnya bagi anak kecintaannya. Setidaknya begitulah definisi mengenai "nama" yang saya yakini dan saya ikuti pula. Maaf ya Pak Shakespeare, " Apalah arti sebuah nama" mu tidak saya ikuti.

    Seringkali saya termangu-mangu bila mendengar nama seseorang begitu indahnya di telinga saya. Lebih takjub lagi bila mengetahui arti sebuah nama, dan Subhanallah.... artinyapun begitu indahnya. Bless You Lord... 
    Kadang ada nama-nama yang membuat saya menyusutkan air mata, karena keindahannya, karena artinya yang bagus, karena kesejukan dan keteduhan di dalam namanya yang memuji kebesaran Ilahi, namun ada juga nama-nama yang membuat saya syahdu dan iba karena saya bingung dengan namanya....

    Saya teringat teman saya SD Watjih, yang selalu jadi bulan-bulanan anak-anak karena namanya yang mirip bunyi bersin. Padahal di luar dari namanya, semua yang ada padanya normal-normal saja.

    Serba salah memang menjadi orang tua di saat-saat hendak memberikan nama kepada anak-anak tercintanya. Selain ingin memberikan nama yang bagus, indah dan bermakna baik, juga tidak ingin nama anak menjadi bahan tertawaan orang-orang di sekitarnya.

    Siapa salah bila tertawa saat guru memanggil nama anak yang diberi nama: Kursi Jati oleh orangtuanya? Atau, nama Merdekakan Irianjaya? Selama saya bersekolah, kebetulan banyak yang orang tuanya menjadi pegawai negeri atau militer, sehingga nama-nama teman pun banyak yang unik. Ada yang pakai embel-embel Pahlawan, Satria, Wira, hingga nama pasukan tempur, nama pesawat tempur, nama peperangan, hingga nama tempat sewaktu orang tua ditempatkan.

    Begitu bersekolah dengan latar belakang orang tua murid yang relijius, nama-nama relijius bermunculan. Suatu waktu, saya ada di kelas dengan separo murid laki-laki berawalan nama Ahmad dan Muhammad. Sementara nama murid perempuannya banyak yang berawalan Siti dan berakhiran -ah, atau bernama dari bahasa Arab.

    Sewaktu di LN, banyak teman Indonesia yang memberikan nama pertama berupa nama khas anak-anak yang berada di negara tersebut. Sehingga tak jarang, teman-teman sewaktu di Jepang memberi nama anak-anak mereka dengan nama Jepang, Ryu, Hikari, Tomoji, Eiko, Tomoko, Yuki, Yukiko, Eriko, Erika dan nama lain sebagai kenang-kenangan untuk anak yang lahir di sana.

    Sementara selalu ada perubahan dan pergeseran antara satu angkatan dengan angkatan sebelum dan sesudahnya. Bila masa orang tua kita, nama-nama cenderung sederhana dan artinya mudah dimengerti pendengarnya. Sementara, nama-nama angkatan kita semakin 'njlimet' karena sering merupakan modifikasi dari beberapa nama yang dijadikan satu.

    Jangan tanya bila nama anak merupakan hasil perpendekan kata, seperti nama anak seorang penyanyi rock Indonesia kawakan Aldino, yang merupakan kependekan dari alhamdulillah dia nongol. Atau nama teman saya Nacea yang lahir tepat saat diluncurkannya pesawat pertama ke bulan, yang merupakan kependekan dari nama Neil Amstrong, Collins, Edwin Aldrin.

    Yang menarik, sewaktu saya perhatikan, nama-nama angkatan orang tua saya adalah dua atau tiga nama yang dijadikan satu dan nama terakhir biasanya adalah nama orang tua(nama ayah). Sementara banyak pula yang nama mereka yang asli adalah nama pertama sedangkan dua nama di belakang mereka adalah nama orang tua(nama ayah).

    Sedangkan nama teman-teman angkatan saya biasanya dua atau tiga nama pula. Namun bedanya dua-tiga nama ini hampir kesemuanya adalah nama sendiri. Yang membawa nama orang tua hanya mereka yang memakai marga misalnya Binsar Silalahi. Sebegitupun, ada beberapa nama teman yang tidak tanggung-tanggung sampai empat atau lima nama dijejer sekaligus. Siapa sangka KRSW Aji adalah kependekan dari Kelana Rahayu Segara Wastuning Aji. Nama laki-laki atau nama perempuan?

    Seringkali saya berfikir, bagaimana sebenarnya para orang tua menentukan nama-nama tertentu kepada anak-anak mereka. Kadang banyak yang dapat memberikan nama-nama eksotis dan indah, sehingga belum ketemu orangnya saja sudah'kesengsem' dan jatuh cinta kepada namanya
    .
    Bicara soal nama eksotis, Dulu saya sering membayangkan memberi nama anak nama Latin,atau nama Sanskrit. Eh, sesudah siap dengan berbagai kemungkinan nama indah menurut versi sendiri....apa yang terjadi?

    Punya suami dan keluarga mertua yang kukuh dengan tradisi pemberian nama yang berbau nama Arab, ternyata membuat semua usulan nama apapun sia-sia tidak terpakai.

    Selama masa kehamilan dan pencarian nama, segala nama bayi dari ensiklopedia nama hingga semua web-site nama ditelusuri. Setiap hari, sepulang kerja biasanya suami saya hanya bertanya, bagaimana perkembangan pencarian namanya? Ada nama baru yang diperoleh? Herannya, saya dengan penuh semangat, seperti melapor kepada si Boss, setiap hari selalu punya usulan nama baru untuk si kecil yang masih di dalam perut. Ah, siapa tahu suami tercinta menjadi pionir dalam keluarganya memberi nama yang tidak 100% dari bahasa Arab?

    Tidak berhenti hanya di situ, setiap ke toko buku yang dilirik buku nama anak, hingga ketemu dengan grup ibu-ibu yang ada di sekitar rumah, yang sama-sama hamil dan menantikan kelahiran bayi, atau sama-sama bertemu di lokal Library, yang dibicarakan bersama kalau tidak sharing keluhan selama kehamilan, persiapan melahirkan, kelengkapan bayi, hingga segala pernik-pernik seputar bayi hingga nama bayi yang akan lahir.

    Suamipun hanya menganguk-angguk. Tulis saja di buku, katanya. Hingga saat menjelang kelahiran bayi, saya sudah mempunyai 3 notesbook 150 halaman yang penuh dengan nama usulan bayi beserta arti dan perpaduan namanya.

    Sampai saat melahirkan, tidak ada satu usulan namapun yang saya ajukan yang disetujui suami dan tidak ada satu namapun yang diajukan suami yang saya setujui. Nah lho.

    Semua usulan nama suami di telinga saya kedengaran begitu "old-fashion" dan kaku. Bagi saya sederhana saja, semua nama yang diajukannya adalah nama teman-teman ayah saya. Lha....masak saya mau ngasih nama anak saya dengan ingatan saya akan Oom A atau Oom B yang nama-namanya "abadi sepanjang masa" karena setiap saat, setiap periode muncul namanya. Sepanjang bukan nama Nabi/Rasul, bagi saya nama-nama yang terlalu "old-fashion" bisa membuat anak ditertawakan teman-temannya.

    Saya ingat sewaktu SMA, ada teman yang sampai kita lupa nama aslinya, karena kita panggil Pak De. Gara-gara namanya yang sama seperti nama tokoh sejarah jaman Majapahit, hingga celetukan seorang anak melekat terus kepadanya.

    Punya nama sangat relijius pun serba salah bila anak yang bersangkutan bermasalah. Ada teman yang namanya'beriman' sekali ternyata alkoholik dan pecandu obat. Belum lagi nama yang terlalu berbeda dengan sekitar juga sering menjadi perhatian. Ada orang tua yang pernah ditempatkan di LN, dan memberikan nama anaknya Wihelmina Juliana Theodora. Ternyata setelah muncul orangnya sangat Melayu dan rendah hati, berbeda dengan namanya yang memberikan kesan megah meriah dan gegap gempita.

    Sementara nama-nama usulan saya di telinga suami terlalu 'Sanskrit', 'Barat' atau bukan nama muslim dari bahasa Arab katanya. Waduh...lha padahal kita berdua pasif bahasa Arabnya dan nama masing-masing merupakan nama perpaduan hasil utak-atik orang tua masing-masing pula.

    Jadilah begitu lahir, bayi kami belum juga bernama. Pegawai Akta Lahir dari City Hall tempat kami tinggal sudah memberikan formulir Akta Lahir begitu saya masuk ke kamar bersalin. Beberapa kali menelpon dan datang, belum juga kami isi form namanya. Hingga akhirnya di hari ke dua setelah melahirkan (berhubung saya melahirkan normal, di sini hanya dua hari di RS setelah melahirkan) petugasnya datang dan menunggu di depan kami yang masih asyik beradu pendapat nama mana yang hendak diberikan kepada anak kami. Akhirnya di detik-detik terakhir, keluar nama anak kami sekarang. Tiga suku kata, first name, middle name, last name. Tidak seindah dan seeksotis nama yang selalu saya inginkan, tidak segagah dan sebagus nama trendy sekarang. Yang terpenting nama ini adalah nama persetujuan bersama yang disetujui saya dan suami sebagai nama yang bagus, baik dan indah bagi anak kami berdua. Tidak ada satu kata dan suku kata yang berbau Sanskrit atau Barat, kemenangan untuk suami saya, namun namanya mengharapkan yang terbaik dari dirinya dan bukan nama usulan dari suami saya adalah kemenangan saya. Fifty-Fifty, seri, kemenangan bersama. Jadinya orang tua saya dan keluarga suami saya yang melongo, karena nama ini 'tidak biasa' ada di kamus perbendaharaan masing-masing keluarga.

    Kemana 3 buku notes usulan nama saya dulu? Wallahu alam....sekarang. Buku itu menghilang bersama sekardus besar buku-buku suami yang lenyap sewaktu kami pindah ke tempat lain.

    Tips untuk orang tua yang sedang mencari nama untuk anak:
    1. Setujui bersama dulu nama dan maknanya yang hendak dicari dari latar belakang bahasa atau budaya mana.
    2. Pilih nama berdasarkan kriteria yang telah disetujui bersama. Jangan seperti saya dan suami yang memilih nama dulu baru di adu di arena. Kecuali kalau memang menikmati saat-saat adu argumen soal nama ini.
    3. Untuk yang menyukai nama-nama relijius, bisa dipilih dari nama-nama Nabi/Rasul atau keluarganya, juga nama Sahabat, hingga orang suci dan nama-nama di dalam Kitab Suci menurut reliji masing-masing. Cek pula sejarah dari nama-nama yang bersangkutan, dan ikuti tata cara penamaan anak menurut reliji masing-masing.
    4.Saat ini banyak tersedia buku-buku nama bayi di berbagai toko buku. Dari nama relijius, nama Indonesia, Barat, Jawa hingga Ensiklopedia Nama Anak.
    5. Tersedia pula banyak web-site yang menyediakan web-site nama anak dari yang gratis hingga yang membayar.
    6. Ada satu acara dari keluarga Banjar (mungkin banyak yang masih melaksanakan), di mana dipanggil dan diundang seluruh keluarga, saudara dan tetangga untuk syukuran kelahiran bayi, sekaligus memanggil tetua/pemuka agama dan adat yang disegani. Semua yang hadir berhak mengajukan sebuah nama, lalu dituliskan di selembar kertas dan digulung. Pemuka agama dan adat ini(atau orang yang dituakan di sini) yang mengambil gulungan-gulungan nama tersebut dan bila paduan nama yang diambil disetujui baik oleh oarang tua, pemuka adat dan kakek-nenek serta seluruh yang hadir, jadilah nama anak tersebut nama gotong royong. Ini juga salah satu cara menentukan nama anak.
    7. Orang tua bisa mencari ilham/ide dengan cara meditasi dan tirakat, bila muslim bisa melalui shalat hajat, shalat istikharah, shalat tahajjud dan puasa sunnah. Pencarian ilham/ide/nama anak selain secara fisik juga perlu penenangan diri secara mental dan spiritual. Kadang dengan musik, lagu atau membaca kitab suci dapat memberikan inspirasi dan ilham.
    8. Last but not least, cek pula bunyi nama yang telah dipilih di dalam bahasa lain, agar jangan menjadikan anak kita nanti bahan tertawaan di tempat lain. Siapa menyangka orang Jepang Susumu Takada ditempatkan bekerja di Jakarta. Orang tuanya apa pernah berfikir bahwa nama tersebut membuat orang Jakarta geli-geli sendiri? Seperti nama Sri, dalam bahasa Jepang dibahasakan SURI dan dalam bahasa mereka berarti 2: mencuri dan atau pencuri. Ini kan serba salah.
    9. Selain indah bunyi dan bagus arti, hendaknya nama anak mudah dibunyikan dan kependekan namanya pun tidak menjadi bahan tertawaan. Ada banyak sekolah dan perusahaan yang membuat klasifikasi nama menurut kependekan nama. kadang ada kependekan nama yang membuat serba salah yang membaca karena menjadi nama yang seronok, misalnya MAD (Muhammad Akbar Dirgantara) FAT (Fatimah Aisha Tanjung).
    10. Pikirkanlah pula nama panggilan untuk si kecil yang 'applicable' sampai kapanpun. Jangan memberikan celah kepada orang lain untuk memberikan nama panggilan yang tidak disukai anak.

    Website nama Anak:
    Catatan : Sebagian web-site tersebut adalah web-site yang menjual produk bayi dengan berbagai bentuk, sebagian benar-benar free , sebagian yang lain mengenakan fee untuk service pencarian nama anak.

    #19 Apakah Kita Terlalu Cinta Anak?


     

    Saya tak pernah terfikir bahwa orang tua bisa terlalu mencintai anaknya, hingga satu waktu ibu saya bercerita bahwa seseorang kenalannya sampai bercerai gara-gara hal itu. Bukan karena perselingkuhan, bukan karena kekurangan di pihak suami atau istri, namun karena Ibu mertua yang berlebihan dalam mencintai anak semata wayangnya.
     
    Bisakah kita membayangkan bahwa kita mempunyai suami yang ideal, hanya saja sang Ibu setiap berkunjung ke rumah kita (yang tentu saja rutin), memaksa tidur diantara kita dan suami tercinta!Belakangan malah sang Ibu mertua memilih tinggal bersama anak semata wayangnya dan tidurpun bertiga, anak, menantu dan dirinya. Mana tahanlah ya.....

    Sampai satu waktu mata saya tertambat membaca sebuah judul buku," Parents Who Love Too Much", tulisan dari Jane Nelsen dan Cheryl Erwin. Jane yang beranak tujuh dan bercucu delapan belas, serta Cheryl yang merupakan therapis untuk perkawinan dan keluarga ini memaparkan mengenai hal ini, bahaya serta kiat-kiat untuk mencegah dan menyembuhkannya.
     
    Menurut mereka, perasaan cinta yang dalam terhadap anak, merupakan suatu hal yang normal dan wajar. Apalagi kita terlahir sebagai manusia yang mempunyai perasaan cinta dan kasih sayang. Hanya saja dalam mengekspresikan cinta dan rasa sayang kita kepada anak ada beberapa manifestasi yang dilakukan oleh orang tua. Tindakan-tindakan yang dianggap bersumber dari rasa cinta dan kasih sayang kepada anak inilah yang dapat mudah tergelincir sehingga menimbulkan masalah di dalam membesarkan dan membentuk kepribadian anak kita.
     
    1.Over-protektif: Orang tua yang OP ini gagal melihat kemampuan dan kompetensi anak. Mereka sering melarang anak melakukan hal-hal yang dianggap membahyakan anak,meskipun sebenarnya tidak perlu dilakukan karena anak sudah dapat melakukan hal itu secara aman. Akibatnya anak bisa merasa nervous dan kehilangan percaya diri. Bila anak mulai menunjukkan penentangan dan kenakalan, cobalah kita tinjau lagi apakah karena terlalu banyaknya larangan yang kita berikan kepada mereka?
     
    2. Penyelamat: Orang tua cenderung selalu mengambil alih tugas dan tanggung jawab di saat-saat terakhir. Anak hampir terlambat, orang tua yang tergopoh-gopoh. Anak lupa PR, orang tua sampai mengerjakan. Bila selalu campur tangan untukmenyelesaikan hal-hal yang mudah sekalipun, anak akan kehilangan rasa tanggung jawabnya dalam menyelesaikan suatu hal. Biarkan anak untuk belajar dari kesalahan dan kegagalan selama itu memang dalam batas kewajaran.
     
    3.Membiarkan: banyak orang tua sekarang yang takut dikatakan kolot dan kaku, sehingga tak ingin mengekang kebebasan anak bahkan cenderung membiarkan anak berbuat sesuka hatinya. Ini akan dapat menimbulkan masalah kedisiplinan pada anak, dan membuat anak semau gue. Ingatlah, bahwa banyak orang yang tidak suka bergaul dengan anak manja.
     
    4.Terlalu Menguasai: Ini kebalikan dari nomor 3. Orang tua yang terlalu banyak aturan dan larangan, akan menimbulkan perasaan pada si anak bahwa orang tua tidak mencintai dan menyayangi anak.
     
    5.Mengalah. Orang tua yang mengalah pada anak ketika anak ngambek hanya akan kehilangan pamor sebagai orang tua. Anak akan semakin sulit diatur dan menganggap remeh orang tua.
     
    6. Membuat terlalu banyak keputusan bagi anak: Orang tua yang seperti ini akan menghambat ruang gerak anak dan membuat mereka seperti boneka mainan orang tua yang harus mengikuti semua kemauan orang tua dan tidak akan berkembang kemampuannya untuk hidup mandiri.
     
    7. Sok Memanjakan: Orang tua seperti ini akan selalu memanjakan anak-anaknya dengan segala kemewahan dan barang-barang yang sebenarnya tidak perlu. Menunjukkan kecintaan dengan barang akan membuat anak jadi menilai apa-apa dengan benda material.
     
    8. Keinginan yang tak realistis: Orang tua seperti ini memberikan beban yang berat kepada anak. Mereka ingin anak mereka masuk sekolah favorit, ingin anak mereka jadi top ranking, jadi anak populer, jadi anak yang serba wah, kadangkala untuk mencapai impian orang tua yang tak terwujud di masa muda mereka. Kadang kala motivasi dari orang tua dapat benar-benar membuat anak berusaha untuk menjadi seperti yang diinginkan orang tua, namun kadang banyak juga yang malah menjadi nakal dan berhenti sekolah sebagai pembangkangan atas pressure dari orang tua.
     
    9. Sibuk sendiri: Orang tua seperti ini tak pernah melibatkan anak di dalam kehidupan sehari-hari. Anak tak punya tanggung jawab di dalam rumah, tak pernah tahu kesulitan orang tua, bahkan sampai hal-hal terkecil, yang penting belajar. Anak akhirnya tidak merasa sebagai bagian dari keluarga.
     
    10. Terlalu banyak Memuji: Semua tindakan anak diberikan pujian, sehingga anak tidak bisa membedakan yang mana sebenarnya achievement yang telah dilakukan, yang mana merupakan hal yang tidak layak untuk dilakukan.
     
    11. Berkelahi untuk Anak: Orang tua seperti ini membuat anak tidak berani menghadapi sendiri masalahnya dan bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukannya.
     
    12. Menjadikan anak sebagai Raja di rumah: Orang tua seperti ini kehilangan kekuasaan dan kontrol atas anak. Semua permintaan anak 'terpaksa' dituruti, membuat anak mudah mengambek dan cengeng, atau menjadi pemarah.
     
    13. Bekerja Lembur untuk uang: Orang tua yang menunjukkan cinta dengan kebendaan, memilih untuk bekerja lebih lama daripada menggunakan waktunya bersama keluarga.
     
    14. Serba Tahu Masa Depan Anak: Orang tua banyak yang kurang berkomunikasi dengan anak mereka, karena mereka pikir mereka tahu akan jadi apa dan bagaimana anak-anak mereka kelak di kemudian hari.
     
    15. Berkelahi Berebutan Anak: Bagi pasangan yang berpisah atau bercerai kadang mereka ingin menghilangkan sama sekali hak salah satu orang tua yang lain dalam mengasuh anak.
     
    16. Memberi Shelter bagi anak Dewasa: Orang tua seperti ini membiarkan anak yang sudah dewasa, tak bekerja dan hidup dari orang tua.
     
    Menurut Jane dan Sheryll, bila ada salah satu di antara ciri-ciri di atas kita lakukan dalam mendidik dan membesarkan anak-anak kita, berarti kita termasuk orang tua yang Terlalu Mencintai Anak (TMA), dan hal tersebut sama sekali tidak berguna bagi anak-anak kita di masa depan.
     
    Mengapa demikian? Karena perasaan terlalu cinta ini bisa mengubah pikiran normal anak terhadap pengertian mengenai common-sense, menciptakan anak yang penuh kelemahan dan kekurangan, anak yang kurang menyadari kemampuan dirinya, atau anak yang berfikiran terlalu ekstrim.
     
    Hal-hal lain yang berbahaya dari manifestasi terlalu mencintai anak adalah, orang tua dapat tergelincir dalam mengagungkan benda/ materialisme, menjadikan anak sebagai milik pribadi, dan lupa bahwa mengikutsertakan anak di dalam kehidupan orang tua jauh lebih baik daripada membatasi kehidupan anak sesuai keinginan orang tua.
     
    Tentu saja kita bisa mencegah agar tidak menjadi orang tua yang terlalu mencintai dalam konotasi negatif, dengan selalu mencari keseimbangan dan kewajaran dalam bertindak.
     
    Saya sendiri banyak melihat bahwa orang tua kadang 'terlupa' atau tak sampai terfikirkan bahwa tindakan mereka sudah berlebihan. Seperti saat saya melihat banyak ibu-ibu yang sampai ikut tegang menunggu anak mereka ujian UMPTN di luar ruangan. Aduh...lha kan mereka bakal jadi mahasiswa....bukan masuk TK lho Bu......Tapi sungguh, saya yang seharusnya terharu sampai bingung...kok ada yang Ibunya nunggu di luar waktu anaknya Ujian Sarjana? Apa ini trend baru ya?
    Membaca point-point Jane dan Cheryl, mau tak mau muncul personal-personal yang saya kenal dalam keseharian saya. Entah tetangga saya, teman saya, oom-tante saya, hingga orang-orang yang tidak saya kenal. Hingga sayapun ikut berkaca diri.
     
    Giliran kini saya yang menjadi orang tua....hmmmm.... ternyata pesan-pesan orang tua dulu ala Timur tidak berbeda jauh dengan parenting ala Barat. Hanya saja selain kesemua itu, petuah orang tua ala Timur juga sarat dengan simbol dan penekanan kepada hormat pada orang tua, ketaatan, sopan-santun, budi pekerti, dan tak lupa penerapan budaya malu. Sayang bila kita kehilangan banyak sisi Ketimuran kita yang sebenarnya penuh pendidikan manusiawi untuk pembekalan anak menuju kedewasaan.
     
    Mudah-mudahan mengingatkan kita semua, agar dapat terhindar dari eksploitasi perasaan cinta pada anak. Semoga.
     
    Louisville, 2005
    Hani Iskadarwati
     
    Jane Nelsen & Cheryl Erwin, "Parents WhoLove Too Much: How Good Parents Can Learn to love more wisely and develop children of character ", Prima Publishing, California, 2000